JAKARTA – Menemukan jati diri atau diri yang otentik (authentic self) merupakan kunci untuk memperoleh hidup yang bermakna, damai dan bahagia. Itu dikatakan doktor filsafat dari Universitas Indonesia, Satrio Arismunandar.
Satrio Arismunandar mengomentari webinar tentang buku Sang Cipta Rasa, karya terbaru Fahd Pahdepie. Ini sebuah buku yang unik, penuh inspirasi, dan penuh ajakan berbenah diri. Webinar itu diadakan oleh Perkumpulan Penulis Indonesia SATUPENA, yang dipimpin oleh penulis senior Denny JA.
Webinar yang topiknya dikomentari Satrio Arismunandar itu menghadirkan penulis Fahd Pahdepie sebagai narasumber. Webinar itu berlangsung di Jakarta, Kamis malam, 16 Maret 2023.
Satrio Arismunandar memaparkan, pencarian jati diri itu bukan cuma terjadi di dunia Timur, tetapi juga di Barat, yang secara material dan sains-teknologi sudah lebih maju. “Walau kemajuan itu juga sudah mulai disusul oleh bangsa Asia seperti Jepang, China, Korea,” ujarnya.
Menurut Satrio, pengejaran dan pencapaian hal-hal yang serba material, yang tidak diimbangi dengan pencapaian kesadaran spiritual, memang bisa menimbulkan ketegangan, kehampaan, keterasingan, kesepian, dan rasa tidak bermakna.
Untuk mengatasi kondisi kekeringan spiritual ini, kata Satrio, orang harus mengambil jarak dari hal-hal yang serba material, dan kembali melihat ke akar keberadaannya.
“Ini adalah upaya menemukan jati diri, yang biasanya berkaitan dengan pertanyaan-pertanyaan eksistensial. Seperti: apa tujuan hidup saya, mengapa saya ada, apa peran yang harus jalani di dunia, dan sebagainya,” sambung Satrio.
Mengutip Dr. Nicole LePera dalam bukunya How to Meet Your Self (2022), Satrio menuturkan, banyak orang saat ini merasa hidupnya tidak bahagia, tidak berguna, kehilangan gairah hidup, kehilangan daya kreativitas, dan sebagainya.
Banyak orang jatuh ke dalam kebiasaan dan pola yang terkondisi—hasil dari masa lalunya—yang mengarah pada siklus rasa sakit, kemandekan, dan penghancuran diri.
“Namun, kita juga memiliki kemampuan bawaan untuk bangkit dan mengubah perilaku dan kebiasaan yang tidak lagi melayani kita, dan memungkinkan kita untuk melangkah ke versi tertinggi dari diri kita sendiri,” jelas Satrio.
“Akar dari semua upaya penyembuhan dan pemulihan batin adalah membangkitkan kesadaran. Ini adalah sebuah proses menyinari cahaya ke dalam kegelapan yang tidak diketahui,” ucap Satrio.
“Dengan secara objektif dan penuh kasih mengamati pola fisik, mental, dan emosional yang mengisi hari-hari kita dan menciptakan diri kita saat ini, kita dapat melihat dengan lebih jelas beban emosional apa yang tidak ingin kita bawa ke masa depan,” tuturnya.